Home Tentang Kami Kegiatan Galeri Kontak Kami

:: BERBAGI CERITA

Menjadi lebih mandiri & terus menjadi lebih baik

Oleh: Durri Andriani, November 2008

M.Idham Anindyatma adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Ke tiga kakaknya perempuan sehingga sebagai anak bungsu dan satu-satunya anak laki-laki, Idham mendapat curahan perhatian yang luar biasa. Disamping itu, jarak usia yang cukup jauh dengan kakaknya (5 tahun beda usia dengan kakak yang persis diatasnya), membuat Idham leluasa mencurahkan kemanjaannya. Kemanjaan Idham itu bukan semata-mata karena ”kemauan” Idham, tetapi salah satu karakteristik anak downsyndrome memang ’loveable’. Mudah sekali untuk mencintai Idham karena Idham sendiri mudah sekali mencintai orang lain. Meskipun demikian, kemanjaan Idham tidak mengurangi kemauan dan persistensi Idham dalam melakukan aktivitas yang disukainya, terutama melukis dan berenang. Menggambar (sebelum akhirnya bertemu dengan Pak Alianto yang mengasah kemampuan Idham dalam melukis), Idham beberapa kali memenangi lomba mewarnai yang diadakan di sekolahnya.

Oh ya, Idham bersekolah di SD Purba Adhika, sekolah yang mengakomodasi anak dengan kebutuhan khusus. Di sekolah, selain pelajaran yang berkaitan dengan mata pelajaran yang umum didapat di sekolah, Idham mendapatkan pelajaran bina diri (yang mendorong anak-anak untuk mampu mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari). Disamping aktivitas di sekolah dan melukis, Idham sudah 4 tahun ini menekuni renang. Ikut lomba renang resmi belum pernah tetapi jika lomba dengan teman-teman sesama peserta les renang, Idham sering menang, apalagi kalau gaya katak, gaya andalan Idham. Berenang bagi Idham sangat berguna sebagai sarana melatih motorik dan sosialisasi. Demikian juga denganmelukis. Melalui melukis, Idham berusaha menyampaikan isi hatinya dengan coretan warna-warni. Kesulitan untuk menyampaikan isi hati dengan kata-kata mendapat jalan keluar melalui lukisan. Ada saja cerita dibalik sebuah lukisan, yang bagi sebagian orang lain mungkin terlihat absurd.

Pada saat Idham teringat almarhum Pak Parto yang biasa memberi pijat refleksi, misalnya, digambarlah sosok pria tua di atas kanvas. Hasilnya adalah guratan penuh warna yang diisi semburat wajah tua Pak Parto. Pada kesempatan lain, dilukislah kuda yang dilihatnya di Bintaro. Hasilnya adalah coretan warna-warna ”keras” yang mewakili agresivitas kuda. Pada kesempatan lain, Idham berkesempatan melukis outdoor di daerah cijeruk, Bogor. Suasana alam yang segar dan warna-warni langit, sawah, sungai kecil membawa Idham pada pemilihan warna yang cerah yang katanya mewakili suasana yang ”bagus lho”. Semua ini tidak akan terjadi tanpa dorongan dan bantuan dari berbagai pihak
Bunda sayang ananda... pelukis muda...

Oleh : Revita, 2 November 2008

Karier yang belum ada sekolahnya hingga kini adalah menjadi... Orang Tua yang baik !
Belakangan kami menyadari, bahwa kami bisa belajar banyak dari anak-anak, salah satunya dari Edo...

Edo, Berawal dari hyperbilirubin (bayi kuning) pada saat lahir, Edo mengalami penurunan butir darah merah yang berakibat cedera otak (cerebral palsy) karena kekurangan pasokan oksigen. Melalui serangkaian terapi berupa terapi okupasi, terapi fisio, terapi wicara dan pengobatan, dengan penuh perjuangan Edo mencoba memperbaiki sistem motorik badannya dan mengejar ketertinggalan dari teman-teman sebayanya. Secara bergantian saya dan suami mengambil ’cuti di luar tanggungan’ untuk menemaninya menjalani proses yang melelahkan bagi Edo, sekaligus belajar darinya untuk menjadi orang tua yang lebih baik

Kami percaya bahwa setiap anak adalah unik dan istimewa. Dan Allah hanya menitipkan anak-anak istimewa kepada orang tua yang istimewa. Sebuah kehormatan bagi kami diberi amanah olehNya. Semoga kami dapat mengemban titipan ini, untuk membimbing Edo mengoptimalkan bakat dan kemampuannya, mandiri dan percaya diri menghadapi hidup dan kehidupannya...

Subhanallah...
Oleh : Arya, November 2008

Saya mau cerita sedikit tentang lukisan ikan yang saya buat. Lukisan itu sebetulnya berawal dari keinginan saya untuk melukis gambar yang temanya selain kereta api. Dan pada saat saya membuat lukisan itu, saya merasa pembuatan lukisan itu sangat susah. Namun dengan kesabaran dan juga usaha yang keras serta bimbingan dari Pak Al, lukisan itu akhirnya selesai dengan baik. Karena temanya tentang dasar laut, maka saya memberi judulnya yaitu “Keindahan Dasar Laut”. Sebetulnya saya tidak mengira bahwa saya mampu membuat lukisan itu, karena saya selama ini sangat terobsesi melukis obyek kereta api. Oleh karena itu setelah lukisan itu jadi, saya merasa nilainya menjadi sangat luar biasa. Itu membuktikan bahwa saya mampu melakukan sesuatu di luar obsesi saya.
Natrio Catra Yososha (Osha), 19 tahun

Adalah seorang remaja dewasa autistik, anak bungsu dari 3 bersaudara. Sekarang Osha sudah menjadi mahasiswa dan baru memulai masa kuliahnya tahun ini di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Arkeologi di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pada saat memasuki usia dimana seharusnya sudah mulai belajar bicara, Osha belum punya kemampuan itu, dan bukan hanya sekedar terlambat bicara, melainkan pada hampir seluruh kemampuannya jauh tertinggal dari anak2 seusianya, hampir semua perilakunya menunjukkan ada ketidak normalan, tapi kondisi waktu itu jauh berbeda dengan sekarang, dimana informasi tentang autisme sudah pada tingkat yang sangat baik, yang didukung oleh berbagai teori, bertambah banyaknya para ahli dan tempat2 terapi maupun sekolah khusus dan sekolah inklusi, dulu bahkan beberapa dokter ahli yang memeriksa Osha, tidak ada satupun yang mengatakan Osha autis, mereka semua sepakat bahwa Osha hanya mengalami keterlambatan bicara saja. Walaupun dengan harus jungkir balik dan bergelut dengan kekecewaan karena selalu mendapat penolakan di sekolah2 tempat kami mendaftarkan Osha, akhirnya walaupun dengan ”memaksa” Osha memang bisa bersekolah, tapi dengan seribu satu masalah yang selalu muncul tak habis2nya.

Pada saat Osha sudah duduk di kelas 2 SD, dan kami bertemu dengan dr Melly Budhiman, barulah kami lega , karena mendapat kepastian tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Osha, dr Mellylah yang pertamakali mengatakan bahwa Osha adalah anak penyandang autistik, lega karena sudah tak merasa bingung dan bertanya-tanya terus dan juga lega karena dengan begitu Osha akan bisa mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan terarah.

Sejak itu, walaupun masih memiliki berbagai hambatan dan kerap bermasalah, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan kebutuhan bersosialisasi, perkembangan hampir seluruh kemampuannya berkembang lebih baik.

Kemampuan akademisnya mengalami kemajuan yang signifikan walaupun sebenarnya kami tidak pernah menjadikan prestasi akademik sebagai target utama, dan perkembangan pesat dari sisi akademiknya inilah yang bisa mengantarkannya menuju jenjang Perguruan Tinggi, hal yang sama sekali diluar harapan dan perkiraan kami sebagai orangtuanya.

Osha sejak kecil sudah terlihat minatnya terhadap musik, dan potensinya itu kami coba kembangkan dengan memberinya kesempatan untuk belajar musik, terakhir kali sebelum Osha kuliah di Yogya, Osha dengan kemampuannya memainkan alat musik biola, tercatat sebagai salah satu violist yunior, anggota orkestra Perguruan Cikini, dan sekarang ketika Osha terpaksa keluar dari orkestranya itu karena harus kuliah di Yogya, ia melanjutkannya dengan menjadi anggota Gama Chamber Orkestra di universitasnya

kembali ke atas..
Profil peserta pameran karya lukis pelukis muda

Lukisan-lukisan yang akan dilelang

www.rumah-lukisku.org